Sampah, merupakan permasalahan yang kerap muncul di tengah-tengah masyarakat. Sampah dapat mendatangkan bau tidak sedap, lingkungan kumuh, bahkan dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan bencana, terlebih di daerah pesisir yang seringkali mendapat sampah kiriman. Hal ini tentu saja mengancam keberlangsungan hidup manusia, terlebih sampah akan selalu ada setiap harinya dengan volum yang terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Maka dari itu, perlu tindakan konservasi dalam menangani sampah.

Wawan Taryanto, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Universitas Lampung menggagas program bank sampah terpadu lingkungan pesisir sebagai bentuk konservasi lingkungan di desa Kaidundu Barat, kecamatan Bulawa, Bone Bolango, Gorontalo. Hal ini ia lakukan sebagai salah satu bentuk program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2017.

Bank sampah yang dibentuk dititiktekankan pada pembentukan system yang dapat mengedukasi masyarakat mengenai pemilahan dan pengolahan sampah secara terus menerus. Dibentuk 4 bank sampah yang tersebar di 4 dusun di desa ini. Tiap-tiap bank sampah yang dibentuk, mengupayakan pengolahan sampah baik organic maupun non organic.

Peresmian Bank Sampah oleh perwakilan DLH Bone Bolango, Rosmiyati – diikuti oleh ketua Karang Taruna desa Kaidundu Barat, Agus Karta. Foto: Wawan Taryanto, Sabtu (12/8)

Sampah organic, diarahkan bank sampah untuk diolah oleh kelompok tani yang ada untuk dijadikan pupuk kompos. Hal ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mensubtitusi kebutuhan pupuk yang kian meroket di pasaran. Kotoran hewan dan dedaunan kering maupun sisa penyiangan dijadikan satu tempat untuk diolah menjadi kompos secara bertahap. Sedangkan sampah non organic diarahkan untuk pembuatan barang kerajinan yang menunjang kebutuhan sehari-hari, seperti keranjang sampah, tas belanja, wadah sajian tamu, hiasan dinding, dan lain sebagainya. Sampah plastic mulai dari botol dan gelas kemasan, hingga bekas pembungkus kopi dikumpulkan dan dirangkai menjadi sebuah kerajinan oleh kelompok ibu-ibu PKK desa.

Wawan, selaku penanggungjawab program, melibatkan beberapa pihak terkait dalam pelaksanaan program bank sampah ini. Mulai dari Dinas Lingkungan Hidup Bone Bolango, Universitas Negeri Gorontalo, dan pemerintah kabupaten Bone Bolango selaku penyokong dan motivator bagi masyarakat, serta pengepul Barokah yang dapat menampung sampah plastic residu kerajinan tangan yang dibuat masyarakat. Meski selama pengenalan program, Wawan mengaku masih cukup sulit memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah, namun ia berharap keberadaan bank sampah ini dapat membawa keuntungan baik moril maupun materil. “Semoga bank sampah ini dapat memberikan dampak perubahan pada perilaku dan cara pandang masyarakat Kaidundu Barat mengenai sampah, sekaligus mendatangkan keuntungan bagi lingkungan dan dapat menjadi penghasilan tambahan”, pungkasnya.

(Rls)

Skip to toolbar