Kerjasama pendidikan menjadi salah satu penghubung penting jalinan Indonesia dan Kroasia. Tekad itu dibangun dengan menjalin komunikasi dan jejaring, demi memperkenalkan Indonesia di negara Balkan pecahan dari Yugoslavia ini.

 
Poin penting itu disampaikan Duta Besar RI untuk Kroasia Sjachroedin Zainal Pagaralam, dalam kuliah umumnya bertajuk “Kerjasama Indonesia-Kroasia: Peluang dan Tantangan” pada Kamis, 14/09/17 di Ruang Sidang Lantai 2 Rektorat Univeristas Lampung. Putra Lampung ini, yang sebelumnya Gubernur Lampung diamanahkan Presiden Joko Widodo menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) untuk Kroasia, 13 Maret lalu.

 
Dalam kuliah umum yang dihelat Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unila ini, Sjachroedin dalam paparannya berkomitmen dan terbuka terhadap gagasan kerjasama pendidikan antara Universitas Lampung dengan universitas yang ada di Kroasia.

 
“Ke depan saya sangat berkomitmen mendukung rintisan kerjasama dengan Univeritas Lampung, silakan apa yang dapat dikembangkan, kerjasama riset, studi, pertukaran mahasiswa dan sebagainya. Termasuk kegiatan magang mahasiswa. Silakan, saya sangat terbuka. Misalnya dalam hal pengajaran Bahasa Indonesia di Kroasia, pengenalan seni budaya Indonesia,”urainya.

Sjachroedin kembali menegaskan bahwa perhatiannya terhadap pengembangan pendidikan di Unila sudah sejak lama. Pada masa menjabat Gubernur Lampung, beberapa dukungan diberikan misal pemberian lahan untuk lahan praktik pertanian dan pengembangan kampus baru Unila.

 
Selama Kedutaan Besar RI Zagreb resmi dibuka sejak 2010, sudah terdapat beberapa kerjasama bidang pendidikan. Kerja sama antara Asosiasi Perguruan Tinggi Swata Indonesia (APTISI) dengan Universitas Zagreb berupa Indonesian-Croatian Rector Forum. Kerja sama antara Universitas Zagreb (UZ) dengan ITB, IPB, LIPI, dan UTY dalam kerangka Erasmus+. Kunjungan APTISI ke Zagreb pada bulan Mei 2017 dan kunjungan Universitas Zagreb pada bulan April 2017. Selanjutnya mahasiswa Indonesia di Kroasia, 1 (satu) mahasiswa tengah menjalani studi S3 Jurusan Teknik Komputer UZ, dan 2 (dua) Mahasiswa S1 jurusan Ilmu Ekonomi dan Seni Tari.

 
Sejak bertugas sebagai dubes ketiga yang berkedudukan di KBRI Zagreb, awal Mei lalu, tantangan yang dirasakan adalah Indonesia masih kurang dikenal oleh masyarakat Kroasia.

“Jarak Indonesia-Kroasia sangat jauh dan harga tiket penerbangan yang cukup mahal, minimal 10 juta. Tapi itu bukan halangan untuk meningkatkan kerjasama,” ujar sosok yang dikenal tegas dan disiplin ini. Sjachroedin berupaya memahami kondisi sosial budaya dan politik di Kroasia, peluang kerjasama yang dapat dikembangkan bagi kepentingan kedua negara.

 
Sjachroedin sebagai dubes yang ditunjuk langsung oleh Presiden RI ini bertekad untuk meningkatkan apa yang sudah dicapai oleh KBRI Zagreb selama ini. Potensi kerjasama dengan Indonesia meliputi 6 sektor utama: perdagangan, investasi, dan pariwisata. Sektor selanjutnya industri, energi, transportasi, UKM, pendidikan, dan ristek.

 
“Negara Kroasia belum begitu maju sehingga mereka masih berusaha mendekat ke Uni Eropa, Jerman dan Italia, termasuk kawasan lainnya termasuk di Asia,” kata Sjachroedin.

Menurutnya, saat ini baru tahap penyusunan, perencanaan lalu mengatur langkah-langkah di lapangan. Indonesia dapat memanfaatkan kegemaran minum kopi, teh, dan coklat warga Kroasia untuk memasarkan produk-produk Indonesia.

“Banyak warga Kroasia yang mencari nafkah di luar negeri menyebabkan Kroasia kekurangan tenaga kerja terampil khususnya di bidang perhotelan. Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengirimkan tenaga kerjanya,”ujarnya. Selanjutnya, hal menarik menurut dia adalah Indonesia dan Kroasia sama-sama negara maritim, dengan pertukaran teknologi perkapalan dan penyelesaian illegal fishing (michella/citra).

 

Skip to toolbar